Ronaldo versus Messi, Liverpool kontra Manchester United, Persija lawan Persib, dan seterusnya. Sepak bola tumpul tanpa rivalitas. Persaingan abadi itu merembes ke game. FIFA dan Pro Evolution Soccer (PES)
berebut pasar sejak terbit pada pertengahan 1990-an.
Kini, perang itu kembali berkobar. Seperti biasa, tanggal perilisan keduanya hampir berbarengan. PES 2016 diluncurkan pada pertengahan September, sedangkan FIFA 16 pada awal bulan ini. Akibatnya, gamers dibuat bingung dalam membeli. Salah pilih, ratusan ribu melayang.
Tempo membantu Anda menentukan pilihan. Setelah memainkan keduanya di PlayStation 4 selama lebih dari tiga pekan, berikut ini penilaiannya, seperti ditulis Koran Tempo, Sabtu, 7 November 2015
Game Play --> PES
PES menyempurnakan sistem permainan mereka. Umpan terobosan lambung jitu ke penyerang tengah—senjata yang menjadi andalan penggemar sejak PES 2013—punah sudah. Bahkan penggemar lama PES membutuhkan waktu ekstra untuk menguasai operan. Tapi, jika sudah dapat selanya, umpan-umpan cepat dan akurat ala Real Madrid bisa kita dapatkan di tim sekelas Stoke City.
Sedangkan di FIFA 16, kita cenderung diajak bermain lebih lambat, seperti tim-tim di Serie A Italia. Seperti di seri-seri sebelumnya, ada titik-titik tertentu yang jadi "gol hafalan", misalnya di suatu sudut di tiang jauh hasil tendangan penjuru.
Keaslian --> FIFA
Lisensi badan sepak bola dunia (FIFA) menjadi modal FIFA sejak pertama terbit 20 tahun silam. Semua pemain, klub, stadion, dan bahkan nyanyian pendukung sesuai dengan aslinya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah video game, EA Sport menambahkan pemain perempuan. Ada 12 tim nasional wanita yang bisa kita pilih, namun pantang diadu melawan pemain pria.
Sebaliknya, penggemar Chelsea di PES harus terus menekan perasaan tim mereka dilabeli London FC. Seragamnya pun kuning, jauh dari julukan mereka, The Blues. Begitu juga Arsenal dengan North London, dan sederet klub Liga Primer lainnya. Kebanyakan penggemar PES mengakalinya dengan men-download patch di forum-forum game di internet, meski itu melanggar hak cipta.
Grafis dan Komentator --> FIFA
Setiap penggemar PES pasti iri melihat tampilan FIFA 16. Dari tato anyar di lengan Leo Messi, tahi lalat David Silva, sampai raut wajah penonton di tribun, semua disajikan dengan detail. Duo komentator mereka, Martin Tyler dan Alan Smith, juga memiliki deretan kalimat yang jauh lebih variatif.
Dibanding mereka, penyiar di PES 2016 menjadi mirip kaset yang mengulang-ulang pembicaraan. Kita cuma butuh tiga kali bermain untuk bosan mendengar komentar Jim Beglin dan Peter Drury yang itu-itu saja.
0 comments:
Post a Comment